You cannot copy content of this page

Destinasi Wisata Sejarah Di Sulawesi Selatan

Museum Balla Lompoa

Museum Balla Lompoa

Sejarah merupakan catatan penting suatu bangsa yang tidak boleh dilupakan, terutama oleh para generasi muda agar nilai-nilai budaya tetap diingat dan dijunjung tinggi sepanjang masa. Pun demikian dengan sejarah suatu daerah, termasuk Propinsi Sulawesi Selatan yang memiliki banyak kisah perjuangan maupun tradisi yang penting untuk terus dilestarikan.

Wisata Sejarah Sulawesi Selatan

Melakukan wisata ke tempat tempat bersejarah dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus sarat pengetahuan, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan alternatif wisata edukatif demi kebaikan tumbuh kembangnya. Berikut ini adalah daftar destinasi wisata sejarah yang kaya ilmu dan patut dikunjungi bersama keluarga, terutama dengan buah hati tercinta :

1. Museum Balla Lompoa

Sulawesi Selatan sangat terkenal akan sejarah Kesultanan Gowa, salah satu kerajaan muslim terkuat pada masa itu. Kesultanan Gowa sendiri dikenal sangat menentang keberadaan VOC (Belanda) hingga berperang dengan sesama Kesultanan asal Bugis, yakni Kesultanan Bone yang menyebabkan tercetusnya Perang Makassar di mana merupakan perang terbesar di tanah Sulawesi.

Guna mengenang masa kejayaan Kesultanan Gowa sekaligus melestarikan peninggalan budaya kerajaan tersebut, maka dibangunlah Museum Balla Lompoa yang merupakan hasil rekonstruksi dari bangunan asli Istana Kesultanan dan berdiri di atas lahan seluas satu hektar.

Balla Lompoa sendiri berarti Rumah Kebesaran atau rumah kehormatan yang ditinggali oleh keluarga Kesultanan. Gaya arsitekturnya khas kediaman orang Bugis, yakni berbentuk rumah panggung dengan bahan konstruksi utama kayu ulin dan kayu besi.

Ruangan di dalamnya terdiri dari kamar tidur Raja, ruang penerimaan tamu, serta bilik-bilik kerajaan. Selain itu, benda-benda peninggalan Kesultanan Gowa pun tersimpan dengan apik di dalam bangunan ini. Terletak di Jalan Hasanuddin no. 48, wisatawan tidak dikenakan retribusi dalam bentuk apa pun untuk mengeksplorasi museum ini.

Museum Balla Lompoa (Mahkota Raja)

Museum Balla Lompoa (Mahkota Raja)

Di Balla Lompoa, pengunjung dapat melihat-lihat koleksi barang-barang berharga dan perhiasaan Kesultanan Gowa yang hampir seluruhnya terbuat dari emas dan memiliki nilai yang tidak terkira, salah satunya adalah Mahkota Raja.

2. Pusat Kerajinan Perahu Pinisi

Tidak hanya memiliki banyak destinasi wisata kelautan, Sulawesi Selatan juga terkenal dengan industri pembuatan Kapal Pinisi, yakni kapal layar asli Indonesia. Kapal ini memiliki filosofis mendalam terkait keagamaan, yakni dua buah tiang layar yang melambangkan dua kalimat syahadat dan tujuh buah layar mengembang yang menyimbolkan Surat Al-Fatihah.

Pusat Kerajinan Perahu Pinisi (proses pembuatan)

Pusat Kerajinan Perahu Pinisi (proses pembuatan)

Disebutkan bahwa nama Pinisi diambil dari pembuat pertama kapal itu sendiri yang kemudian terkenal ke seantero Sulawesi Selatan dan menjadi sebuah industri turun temurun. Namun, pusat pembuatan Perahu Pinisi terbesar dan paling populer berada di Tanah Beru, Kabupaten Bulukumba.

Pembuatan satu buah Kapal Pinisi menghabiskan waktu sekitar 3 – 6 bulan. Pembuatan Kapal Pinisi tidak boleh sembarangan dan melewati banyak ritual adat mulai dari pencarian bahan baku hingga selesainya perakitan. Kini, industri Perahu Pinisi di Sulawesi Selatan telah mencapai skala internasional dan banyak dijadikan kapal komersil layaknya pesiar mewah yang lengkap dengan beragam fasilitas bagi wisatawan yang menaikinya.

Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu

3. Benteng Somba Opu

Benteng peninggalan Kesultanan Gowa ini berlokasi di Jalan Daeng Tata, Kabupaten Gowa. Dibangun pada abad ke-16 oleh Raja kesembilan Kesultanan Gowa, benteng ini dimaksudkan sebagai pusat perdagangan rempah-rempah sebagai komoditi unggulan Sulawesi Selatan masa itu hingga saat ini.

Transaksi terjadi tidak hanya antar pedagang domestik, namun juga dengan pedagang Eropa. Kesuksesan perdagangan rempah tersebut kemudian menghantarkan pengaruh serta kemakmuran Kesultanan Gowa meningkat.

Namun, hal tersebut kemudian diketahui oleh VOC yang telah menjajah wilayah lain di nusantara dan lantas menjadikan Kesultanan Gowa sebagai target penjajahan. Walaupun mendapat perlawanan sengit, namun berkat bantuan sekutu dari Kesultanan Bone, Benteng Somba Opu akhirnya runtuh.

Sekitar tahun 1980-an, benteng yang sempat terendam ombak itu pun ditemukan oleh para ilmuwan asing yang meneliti sejarah Kesultanan Gowa. Proses rekonstruksi baru dimulai tahun 1990, yang kemudian selain memulihkan benteng semaksimal mungkin, juga berhasil merekonstruksi beberapa bangunan rumah adat dalam areal tersebut, sebuah meriam, dan museum peninggalan Kesultanan Gowa.

Kawasan Adat Suku Kajang Ammatoa

Kawasan Adat Suku Kajang Ammatoa

4. Kawasan Adat Suku Kajang Ammatoa

Sebagai salah satu suku adat tertua di Sulawesi Selatan, masyarakat Kajang Ammatoa sangat menarik untuk dipelajari, baik sejarah maupun adat istiadat yang diusung. Suku ini tinggal di daerah Tana Tao yang berada di bawah pemerintahan Kabupaten Bulukumba.

Meski demikian, suku Kajang memiliki pemimpin sendiri, seorang tetua yang dihormati bergelar Ammatoa. Ammatoa merupakan pemimpin yang dihormati dan memiliki hak pengambilan keputusan untuk masyarakat Kajang secara menyeluruh.

Ammatoa sendiri dipilih berdasarkan musyawarah seluruh anggota suku dan menjabat seumur hidup, hingga akhir hayat menjemput. Saat ini, Ammatoa yang memimpin Suku Kajang merupakan Ammatoa ke-22 yang memiliki tugas utama menjaga keselarasan adat istiadat suku.

Ciri khas dari Suku Kajang Ammatoa adalah seluruh anggota suku mengenakan pakaian berwarna hitam yang melambangkan keserhanaan serta kedalaman pemahaman spiritual mereka yang memang memiliki hukum suku secara turun temurun untuk menjalani kehidupan tanpa berlebih-lebihan dan dan berpuas dalam kesederhanaan.

Hal itu tercermin pula dari konstruksi rumah yang dipilih. Rumah batu bata merupakan pantangan di sini, karena dianggap merusak ekologi hutan yang begitu mereka jaga kelestariannya.

Rumah batu bata membutuhkan pasir dan kayu yang mempengaruhi keseimbangan alam, serta melalui proses pembakaran dan menghasilkan limbah yang menghasilkan pencemaran lingkungan. Sebab itu, mereka memilih rumah panggung yang ramah lingkungan sebagai hunian.

Meski sangat menjaga adat istiadat dan budaya mereka, masyarakat Suku Kajang sangat ramah terhadap wisatawan.Sehingga, tidak perlu merasa takut bila ingin menghabiskan liburan ke sini bersama dengan keluarga.

Mereka juga tidak memungut biaya sepeserpun, bahkan wisatawan akan diperlakukan selayaknya tamu yang pasti dijamu dengan sangat baik.

Benteng Ujung Pandang Atau Fort Rotterdam

Benteng Ujung Pandang Atau Fort Rotterdam

5. Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam

Benteng yang memiliki bentuk seperti penyu ini merupakan salah satu destinasi wisata sejarah paling terkenal dari Sulawesi Selatan dan terletak di Kota Makassar.

Benteng Fort Rotterdam memiliki sejarah panjang dalam masa penjajahan kolonial Belanda. Untuk masuk ke areal Fort Rotterdam, wisatawan dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- per orang.

Fort Rotterdam dibangun pada tahun 1667 untuk melindungi kawasan hunian kolonial Belanda, serta sarana peribadatan mereka dan berlangsung hingga tahun 1937 di mana kemudian pengaruh kolonial mulai mengendur akibat perlawanan sengit para pejuang kemerdekaan, termasuk Pangeran Diponegoro yang kemudian ditahan dan diasingkan di penjara Fort Rotterdam tersebut.

Ketika kolonial berhasil dipukul mundur, Fort Rotterdam kemudian dikuasai oleh penjajah Jepang yang mengkhianati sikap persahabatan dari masyarakat Sulawesi Selatan.

Banyak penduduk pribumi kemudian dipenjarakan di Fort Rotterdam. Hingga akhirnya, pada tahun 1970-an berhasil dikuasai oleh pemerintah Indonesia dan mulai dijadikan sebagai destinasi wisata sejarah dari Sulawesi Selatan.

0/5 (0 Reviews)

Facebook Comments

Disqus Comments

jatinecia1